Ads 720 x 90

Onedayhadist - Dunia Islam

Al Istikhdam dalam al Quran dan Penjelasannya

Al Istikhdam dalam al Quran dan Penjelasannya

Al Istikhdam dalam al Quran dan Penjelasannya

Secara teologis istikhdam diartikan sebagai :

ذكر اللفظ بمعنى وإعادة ضمير أو اسم إشارة بمعنى آخر.

Menyebutkan suatu lafadz yang mempunyai makna dua, sedangkan yang dikehendaki adalah salah satunya. Setelah itu diulangi oleh kata ganti dhamir yang kembali kepadanya atau dengan isim isyaroh dengan makna yang lain, atau diulangi dengan dua isim dhamir, sedangkan yang dikehendaki oleh dhamir yang kedua bukan yang dikehendaki oleh dhamir yang pertama.

Istikhdam adalah Menyebutkan suatu lafadz yang mempunyai makna dua, sedangkan yang dikehendaki adalah salah satunya. Setelah itu diulangi oleh kata ganti dhamir yang kembali kepadanya atau dengan isim isyaroh dengan makna yang lain, atau diulangi dengan dua isim dhamir, sedangkan yang dikehendaki oleh dhamir yang kedua bukan yang dikehendaki oleh dhamir yang pertama.

Al Quran selalu menarik utk dikaji, keindahan-keindahan susunan bahasa yg dipakainya menyadarkan para penutur bahasa Arab, bahwa bahasa yg biasa mereka pakai sehari-hari menjadi luar biasa dlm al Quran. Betapa tidak, al Quran yg semua lafadnya menggunakan bahasa Arab yg mereka kenal, memiliki keistimewaan yg jauh melebihi perkiraan mereka dalam keindahan bahasa, pengakuan atas keindahan al Quran bahkan muncul dari ahli sastra Arab yg tidak beriman, Al-Walid bin al-Mughirah pernah berkata:

ﻓﻮﺍﻟﻠﻪ ! ﻣﺎ ﻓﻴﻜﻢ ﺭﺟﻞ ﺃﻋﻠﻢ ﺑﺎﻷﺷﻌﺎﺭ ﻣﻨﻲ ، ﻭﻻ ﺃﻋﻠﻢ ﺑﺮﺟﺰ ﻭﻻ ﺑﻘﺼﻴﺪﺓ ﻣﻨﻲ ، ﻭﻻ ﺑﺄﺷﻌﺎﺭ ﺍﻟﺠﻦ ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ! ﻣﺎ ﻳﺸﺒﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﻮﻝ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ، ﻭﻭﺍﻟﻠﻪ ! ﺇﻥ ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻘﻮﻝ ﺣﻼﻭﺓ ، ﻭﺇﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻄﻼﻭﺓ ، ﻭﺇﻧﻪ ﻟﻤﺜﻤﺮ ﺃﻋﻼﻩ ﻣﻐﺪﻕ ﺃﺳﻔﻠﻪ ، ﻭﺇﻧﻪ ﻟﻴﻌﻠﻮ ﻭﻣﺎ ﻳﻌﻠﻰ ، ﻭﺇﻧﻪ ﻟﻴﺤﻄﻢ ﻣﺎ ﺗﺤﺘﻪ

"Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah kalian orang yg lebih memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga ada yg lebih tahu tentang rajaz dan qashidah bahkan syiir jin daripada diriku.
Demi Allah! Apa yg ia ucapkan tidak menyerupai itu semuanya. Apa yg ia ucapkan (al Quran) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan, baik, dan ucapan yg diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu luhur dan tidak ada yg mengunggulinya, serta menghantam apa yg ada di bawahnya.”

Perkataan ini tentu muncul dari pengakuan dan penilaian yg obyektif terhadap kehebatan susunan bahasa al Quran.
Diantara keindahan susunan bahasa al Quran yg juga menarik utk dikaji adalah seni/tehnik al istikhdam, yaitu: menyebut lafadz yg bermakna dua dengan salah satu maknanya lalu menyebutkan dhomir yg kembali padanya dengan makna yg lain.

Berikut beberapa contoh al istikhdam dalam al Quran:

1. al Baqoroh 185:

ﻓَﻤَﻦْ ﺷَﻬِﺪَ ﻣِﻨْﻜُﻢُ ﺍﻟﺸَّﻬْﺮَ ﻓَﻠْﻴَﺼُﻤْﻪُ
"Barang siapa diantara kalian menemui bulan (hilal Romadhon) maka hendaklah berpuasa (pada bulan itu).
Dalam kitab Jawaahir al Balaghah disebutkan bahwa makna lafadz ﺍﻟﺸﻬﺮ yg pertama adalah bulan sabit, lalu dhomir yg kembali kepadanya dlm lafadz ﻓَﻠْﻴَﺼُﻤْﻪُ bermakna bulan (Ramadhan).

2. ar Ra'du: 38-39

ﻟِﻜُﻞِّ ﺃَﺟَﻞٍ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﻳَﻤْﺤُﻮﺍ۟ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَﺎٓﺀُ ﻭَﻳُﺜْﺒِﺖُ ۖ ‏( ﺍﻟﺮﻋﺪ : ٣٩ـ٣٨ )
Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).
Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki)
Dalam kitab Badi' al Quran disebutkan bahwa lafadz ﻛﺘﺎﺏ mengandung dua makna, pertama makna batas masa yang ditetapkan, kedua bermakna tulisan, dlm rangkaian ayat 38, lafadz ﺃﺟﻞ disandingkan dengan salah satu makna lafadz ﻛﺘﺎﺏ yaitu batas masa yg telah ditetapkan, dan lafadz ﻳﻤﺤﻮ disandingkan makna ﻛﺘﺎﺏ yg lainnya yaitu tulisan,
sehingga makna ayat diperkirakan adalah:
"Bagi tiap-tiap masa ada batas akhir (yg tertentu).
Allah menghapuskan (tulisan/ketentuan) apa yg Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki)

3. al Mukminun 12-13

ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ ﭐﻟْﺈِﻧﺴَٰﻦَ ﻣِﻦ ﺳُﻠَٰﻠَﺔٍ ﻣِّﻦ ﻃِﻴﻦٍ ﺛُﻢَّ ﺟَﻌَﻠْﻨَٰﻪُ ﻧُﻄْﻔَﺔً ﻓِﻰ ﻗَﺮَﺍﺭٍ ﻣَّﻜِﻴﻦٍ ‏( ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻮﻥ ١٣ـ١٢ )
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yg disimpan) dlm tempat yg kokoh (rahim)"
Dalam ayat ini, lafadz ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ yg disebutkan pertama bermakna Adam, dan dhomir yg dikembalikan kepadanya dlm lafadz ﺟﻌﻠﻨﺎﻩ bermakna keturunannya.

4. ar Rum 27

ﻭَﻫُﻮَ ﭐﻟَّﺬِﻯ ﻳَﺒْﺪَﺅُﺍ۟ ﭐﻟْﺨَﻠْﻖَ ﺛُﻢَّ ﻳُﻌِﻴﺪُﻩُۥ ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﻫْﻮَﻥُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ۚ
Dan Dialah yg memulai penciptaan, kemudian mengembalikannya kembali, dan mahluq itu lebih remeh bagi-Nya.
Dalam ayat ini, Allah menyebutkan kata ﺍﻟﺨﻠﻖ dgn makna masdar (penciptaan) lalu menyebutkan dhamir yg kembali kepadanya, tetapi dengan makna yg lain, yaitu bermakna isim maf'ul (mahluk).
Daffa
Suka menulis dan suka kamu

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter